9 KEBIASAAN KECIL PEMACU DIABETES

Dalam hidup ini berlakunya hukum "tabungan". Apa yang kita simpan akan berhasilnya di masa mendatang sedikit demi sedikit.. Begitulah dengan penyakit. Mulai dari segelas minuman favorit hingga suka menonton TV sampai larut malam. Siapa sangka kalau itu yang meningkatnya risiko diabetes?
1. Teh Tarik
Penjelasannya sederhana. Tingginya asupan gula menyebabkan kadar gula darah melonjak tinggi. Belum risiko kelebihan kalori. Segelas teh manis kira-kira mengandung 250-300 kalori (tergantung kepekatan). Kebiasaan kalori wanita dewasa adalah 1.900 kalori per hari (tergantung aktiviti). Dari teh manis saja kita sudah dapat 1.000-1.200 kalori. Belum ditambah 3 kali makan nasi beserta lauk pauk. Perlu membuat pemeriksaan kalau setiap hari kita kelebihan kalori. Ujungnya: obesiti dan diabetes.
Pengganti: Air putih, teh tanpa gula, atau bataskan mengambilan gula tidak lebih dari dua sendok teh sehari.
2. Gorengan
Karena bentuknya kecil, satu gorengan tidak cukup buat kita. Padahal gorengan adalah salah satu faktor risiko tinggi pemicu penyakit degeneratif, seperti kardiovaskular, diabetes dan stroke. Penyebab utama penyakit kardiovaskular (PKV) adalah adanya penyumbatan pembuluh darah koroner, dengan salah satu faktor risiko utamanya adalah dislipidemia. Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol total, LDL (kolesterol jahat) dan trigliserida, serta penurunan kadar HDL (kolesterol baik) dalam darah. Meningkatnya proporsi dislipidemia di masyarakat disebabkan kebiasaan mengonsumsi berbagai makanan rendah serat dan tinggi lemak, termasuk gorengan.
Pengganti: Kacang Jepang, atau pie buah.
3. Suka mengunyah
Kita membataskan makan siang atau malam dengan menghindarkan diri dari obesiti dan diabetes. Karena belum kenyang, perut diisi dengan sepotong atau dua potong biskuit, kerepek, kentang, kuaci dan LLN. Padahal, biskuit, kerepek, kentang dan kueh-kueh manis lainnya mengandung risiko yg sangat tinggi. Sementara itu, gula dan tepung yang terkandung di dalamnya mempunyai peranan dalam menaikkan kadar gula dalam darah.
Pengganti: Buah potong segar.
4. Kurang tidur.
Jika kurang tidur tidak didapati, metabolisme jadi terganggu. Hasil kajian ahli dari University of Chicago mengungkapkan, kurang tidur selama 3 hari mengakibatkan kemampuan tubuh memproses glukos menurun drastik. Artinya, risiko diabetes meningkat. Kurang tidur juga dapat merangsang sejenis hormon dalam darah yang memicu nafsu makan. Didorong rasa lapar, penderita gangguan tidur terpicu menyantap makanan berkalori tinggi yang membuat kadar gula darah naik.
Risolusi: Tidur tidak kurang dari 6 jam sehari, atau sebaiknya 8 jam sehari.
5. Malas berjoging
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, penyakit diabetes di negara-negara Asia akan naik hingga 90 peratus dalam 20 tahun akan datang. "Dalam 10 tahun belakangan, jumlah penderita diabetes di Hanoi, Vietnam, malaysia termasuk negara yang lain berlipat ganda. Sebabnya? Di kota ini, masyarakatnya lebih memilih naik motor dibanding berjalan kaki," kata Dr Gauden Galea, Penasihat WHO untuk Penyakit Tidak Menular di Kawasan Pasifik Barat.
Kesimpulannya, mereka yang sedikit aktiviti badan berpeluh memiliki risiko obesiti lebih tinggi dibanding mereka yang rajin berjoging, jalan kaki, atau aktiviti lainnya.
Risolusi: Berjoging seminggu 3 x sekurang-kurang.
6. stres
Stres sama seperti banjir, harus dialirkan agar tidak terjadi banjir besar. Saat stres datang, tubuh akan meningkatkan produksi hormon epinephrine dan kortisol supaya gula darah naik dan ada cadangan energi untuk beraktiviti. Tubuh kita memang dirancang sedemikian rupa untuk maksud yang baik. Namun, kalau gula darah terus ditahap tinggi karena stres berkepanjangan tanpa jalan keluar, sama saja dengan bunuh diri perlahan-lahan.
RiSolusi: Bicaralah pada orang yang dianggap bermasalah, atau ceritakan pada sahabat terdekat.
7. Ketagih rokok
Satu kajian di Amerika yang melibatkan 4.572 relawan pria dan wanita menemukan bahawa risiko perokok aktif terhadap diabetes naik sebanyak 22 peratus. Disebutkan pula bahwa naiknya risiko bukan sahaja disebabkan oleh rokok, tetapi kombinasi berbagai gaya hidup tidak sehat, seperti makan berlebihan dan kurang bersenam.
Pengganti: bebaskan gula. Cara yang lebih progresif adalah mengikuti hipnoterapi. Pilihlah ahli hipnoterapi yang sudah berpengalaman.
8. Takut kulit jadi hitam
Menurut jurnal Diabetes Care, wanita dengan asupan tinggi vitamin D dan kalsium berisiko paling rendah terkena diabetes tipe 2. Selain dari makanan, sumber vitamin D terbaik ada di sinar matahari. Dua puluh minit paparan sinar matahari pagi sudah mencukupi kemasukan vitamin D selama tiga hari. Beberapa penelitian terbaru, di antaranya yang diterbitkan oleh American Journal of Epidemiology, menyebutkan bahwa vitamin D juga membantu keteraturan metabolisme tubuh, termasuk gula darah.
ReSolusi: Gunakan krim tabir surya sebelum "berjemur" di bawah sinar matahari pagi selama 10-15 menit.
9. Minuman soda
Dari penelitian yang dilakukan oleh The Nurses' Health Study II terhadap 51.603 wanita usia 22-44 tahun, ditemukan bahwa peningkatan konsumsi minuman bersoda membuat berat badan dan risiko diabetes melambung tinggi. Para peneliti mengatakan, kenaikan risiko itu terjadi karena kandungan pemanis yang ada dalam minuman bersoda. Selain itu, asupan kalori cair tidak membuat kita kenyang sehingga terdorong untuk minum lebih banyak.